Detail pustaka
ISLAM DAN NEGARA
Jumat, 10-Feb-2012 | Penulis : ASEP SAEFUL MIMBAR, BIDGAR KOMINFO

Nothing new under the sun (tidak ada yang baru di bawah matahari), kata sebuah pepatah. Dalam al-Qur'an, ummat Islam juga diajari bahwa memang kehidupan manusia selalu dihadapkan dua kekuatan: wahyu Illahi (al-wahy) dan interes manusiawi (al-hawa). Kedua kekuatan ini telah melahirkan banyak tokoh yang dikisahkan al-Qur'an. Habil vs. Qabil, Hud vs. Kaum ‘Aad, Shaleh vs. Kaum Tsamud, Ibrahim vs. Namrudz, Musa vs. Fir'aun, demikian untuk memberikan beberapa contoh. Maka, demikianlah seterusnya, selalu ada pertentangan itu hingga Hari Kiamat.

Zaman terus bergulir, dan perhelatan ideologis itu selalu ada. Sejak Perang Salib ummat Islam menegaskan bahwa mereka adalah pihak yang bertentangan dengan Barat (yang notabene kafir (Pagan-Yahudi-Kristen)). Pertentangan itu memuncak ketika ummat Islam mengalami kekalahan dari berbagai segi oleh Barat, dengan pembuktian bahwa Barat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 menguasai seluruh belahan dunia, termasuk di dalamnya wilayah-wilayah ummat Islam. Jeda pertentangan peradaban itu muncul ketika ummat Islam tidak begitu dihitung dalam percaturan dunia sejak munculnya ideologi Komunisme, yang juga lahir dari peradaban Barat. Maka Perang Dingin pun muncul. Sementara itu, sejak hengkangnya kolonialisme di dunia Islam, kekuatan ummat Islam menjadi terpecah-pecah dalam negara-negara bangsa (nation-states). Pertanyaan pun timbul ketika Perang Dingin berakhir, "Apakah peradaban besar lain yang menentang Barat?" Islam, tentu dengan sendirinya, menjadi peradaban nomor satu yang harus dihadapi Barat. Selebihnya adalah sekitar tujuh peradaban yang ada dalam daftar Samuel Huntington.

Untuk menelaah sejauhmana persiapan Islam dalam menghadapi modernitas Barat yang sudah sangat meng-global ini, berikut adalah studi selintas tentang respons ummat Islam terhadap modernitas, dengan mengambil sampel pemikiran Muhammad Asad (1900-1992) dalam eksperimentasi negara ideologis-nya di Pakistan pada pertengahan abad ke-20 yang mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita pada permulaan abad ke-21 sekarang ini.

Selintas Pemikiran Asad
Asad, pada faktanya, mewakili contoh terbagus dari fenomena baru di zaman modern: dia termasuk orang Barat yang melakukan konversi ke Islam. Orang-orang seperti Asad ini telah menjadi bagian dari penulis dan intelektual Islam dan juga telah menunjukkan suatu komitmen yang bergairah pada visi dan jalan hidup mereka. Lingkungan dan sebab kepindahan mereka pada Islam mungkin berbeda-beda, tetapi biasanya terdapat tiga alasan yang umum pada orang-orang yang konversi itu: kepercayaan pada originalitas Qur'an, pada kenabian Muhammad dan pada pesan Islam untuk membawakan kehidupan yang baik. Tindakan keimanan mereka telah menunjukkan pada publik Barat yang lebih luas bahwa, sebaliknya dari mispersepsi akan Islam sebagai agama yang fanatik dan aneh diikuti dengan kaum pribumi yang ganas, pesan dan ajaran Islam tetap relevan dan tepat bagi orang-orang rasional dan pemikir di wilayah dunia yang paling maju.

Yang jadi unik dalam diri Asad adalah bahwa dia berada di atas Muslim Barat lain karena tidak ada yang memberikan kontribusi lebih daripada Asad dalam memperteguh Islam sebagai sebuah ideologi dan menyampaikan semangat Islam yang merupakan inti ajaran tersebut dalam kerangka pikir kontemporer baik kepada kaum Muslim sendiri ataupun kepada Non-Muslim. Upaya reaktualisasi Islam ini perlu terus dipacu oleh umat Islam secara keseluruhan, mengingat Islam bisa pula menjadi pembanding pada peradaban Barat.

Asad membuat semuanya berbeda dalam mengubah paradigma politik Muslim. Ia mencapai hal ini dengan buku kecil tetapi penting, The Principles of State and Government in Islam (1961), semata-mata berdasarkan norma-norma Qur'an dan 70 buah Hadits. Buku ini hadir sebelum buku Sayyid Quthb Ma'alim fi al-Thariq yang terbit pada tahun 1964. Grunebaum berpendapat bahwa buku Asad ini dapat satu kelas dengan Institutes-nya Calvin atau Communist Manifesto-nya Marx-Engels. Walhasil, untuk zaman modern, Asad telah ikut menancapkan tonggak Islamisasi lembaga kenegaraan (statecraft) dan Islamisasi pengetahuan, terutama dalam bidang ilmu politik.

Jika dilihat, ada dua poin yang membuat Asad lebih revolusioner daripada semua tulisan Quthb. Yang pertama bahwa Asad telah membuat ummat menyadari bahwa titel khalifah telah secara salah ditujukan pada para penguasa Muslim yang menurut Qur'an seharusnya bergelar Amir. Menurut Qur'an semua warga Muslim dari negara Islam adalah para khalifah yang sebenarnya. Setiap orang adalah khalifah Tuhan di muka bumi (2:30; 6:165; 24:55; 27:62; 73:72; 35:39). Dan Asad berada pada pendirian bahwa musyawarah (Syura) itu sebisa mungkin harus merupakan persetujuan rakyat (konsensus).

Poin revolusioner kedua adalah bersifat metodologis. Dia sadar bahwa negara Islam modern tidak dapat dibangun oleh fiqh abad pertengahan yang sudah usang yang, berdasarkan interpretasi subjektif dan logika deduktif, telah menjadi yang disucikan (sacrosant). Dengan mengikuti Ibn Hazm, Asad mengajukan untuk hanya berdasarkan al-Qur'an dan al-Sunnah yang lebih bersifat abadi yang sifatnya normatif dan jelas atau disebut dengan al-nushush.

Pengertian Asad tentang bolehnya kita ber-ijtihad kepada apa-apa yang tidak dijelaskan secara khusus dalam Qur'an dan Sunnah, menurut Hamid Enayat, bisa membuat munculnya interpretasi yang liberal tentang Islam. Dengan demikian, dapatlah disebutkan bahwa Asad sangat penting dalam mendorong demokrasi Islam. Upaya seperti ini dapat diteruskan guna menangkap tantangan zaman, dan kemudian menggali jawabannya, seperti Asad, pada teks genuine Islam: al-Qur'an dan al-Sunnah.

Upaya inilah yang menurut Grunebaum, sebagai upaya penghampiran (rapprochement) Islam pada tradisi politik Barat mutakhir, dengan menggambarkan kekayaan wahyu Islam dihadapkan pada warisan sejarah Barat. Begitulah Asad, walaupun dengan keterbatasan teks, dia dapat memutuskan bentuk yang jelas dari Negara Islam. Kekukuhannya dalam penggabungan metode tekstual dan rasional di zaman modern ini dapat memperteguh suatu varian hibrida antara Islam dan modernisme. Asad, dengan demikian, dapat digolongkan sebagai seorang modernis atau reformis yang memberikan suatu sikap yang jelas dalam menghadapi gap antara teks dan konteks.

Atas segala hal, Asad adalah seorang pemikir. Apa yang kita saksikan pada posisinya di Pakistan adalah sebagai seorang penengah: antara pihak yang ter-Barat-kan dengan pihak yang ingin kembali kepada pemerintahan Khulafa al-Rasyidin. Dengan demikian, dia bukan seorang yang terlibat secara aktif dalam percaturan politik. Dia hanya seorang pemberi jalan keluar, dengan berdasarkan pada Qur'an Sunnah, tentang pemerintahan seperti apa yang dapat secara sah mengaku sebagai Negara Islam.

Seperti diketahui, ketika pemikiran seperti ini lahir, Asad adalah seorang yang duduk di Mahkamah Agung, yang kemudian dapat mengeluarkan fatwa bahwa tindakan politik ini benar atau salah, sesuai dengan pandangan Islam. Posisi seperti ini, dalam sejarah Pakistan, kemudian diduduki oleh Fazlur Rahman.
Dan sejarah pun menyaksikan bahwa baik ide-ide Asad maupun Fazlur Rahman tidak dapat diaplikasikan oleh para penguasa Pakistan. Maka, tidak heran jika kemudian, kedua orang itu, tidak lagi merasa enak untuk tinggal di Pakistan. Keduanya kemudian pergi ke Barat, sebagai tempat untuk mencurahkan ide-ide mereka. Dan kemudian terbukti bahwa ide-ide mereka terus mengalir, hidup, dan mendunia, walaupun mereka meninggal di negeri yang mungkin tidak mereka bayangkan sebagai negeri yang ideal: negeri yang berdasarkan pada Islam sebagai basis politiknya.

Dari kasus Asad, kita dapat melihat bahwa Islam memang menakjubkan secara konseptual, tetapi secara real historis, terutama pada zaman sekarang, Islam seolah tidak menunjukkan apa-apa. Di sinilah tugas umat Islam untuk membuktikan bahwa memang mereka itu adalah "ummat yang terbaik" (khair ummah).

Ibrah dari Pakistan
Totalitas diskursus politik Asad berada pada persepsinya tentang kesempurnaan Islam dan perkembangannya kepada Hukum Islam. Diskusi seperti ini mendapatkan relevansinya dengan apa yang dihadapi Asad di India, yaitu sebuah bangsa yang asal-usul kebangsaannya semata-mata berdasarkan satu agama: Islam. Di dalam bangsa yang kemudian disebut Pakistan inilah Asad mengajukan suatu rancangan untuk menegakkan Hukum Islam, yaitu Negara Islam (Islamic State). Asad memang tidak sendirian. Begitu banyak pemikir Islam pada saat itu yang memikirkan kebangkitan Islam dengan kesimpulan yang sama: berdirinya negara Islam dalam rangka menegakkan Hukum Tuhan. Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb adalah di antara mereka. Begitu pula dengan rekan senegara Asad, Al-Maududi juga termasuk yang paling terkenal, bahkan sampai mendunia, lebih daripada Asad sendiri.

Dalam pemikiran Asad, prinsip syura dibuat menjadi doktrin yang absolut. Pemikiran ini ditujukan untuk: pertama, untuk menyerap demokrasi ke dalam Islam, dan konsekuensinya untuk mengambil inisiatif dari ajaran-ajarannya, dan kedua, sebagai alat yang sah untuk mengontrol pemerintahan karena legitimasi itu berada pada pemilihan rakyat. Demikian juga penolakan adanya ketegangan antara pemerintahan konstitusional dan syura dan dalil kesesuaiannya merupakan bagian dari diskursus a-historis yang mentransformasikan Islam ke dalam sebuah sistem yang mampu untuk menyerap apa yang terbaik dalam filsafat, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan sejarah.

Karena sejarah umat Islam itu tidak identik dengan Islam, maka sejarah itu kehilangan status normatifnya. Pada hakikatnya, Asad menganggap berbagai penyimpangan sejarah itu terletak pada pemaksaan Islam ke dalam peristiwa-peristiwa historis dan justifikasinya. Maka, walaupun pemerintahan konstitusional Barat dan syura dalam sejarah Islam mempunyai asal-usul sejarah yang cukup berbeda, Asad tidak menemukan masalah teoretis dalam membentuk kesesuaian antara keduanya.

Memang pada tingkatan yang lain, masalah itu tidak begitu tergantung pada sejarah dan pemaknaan saja; karena sebuah istilah dapat saja berubah-ubah maknanya. Tetapi untuk menganggap bahwa transfer seperti itu akan menjauhkan umat Islam dari permasalahan teori politik Islam seperti yang dikembangkan oleh teoritisi politik abad pertengahan, berarti menghilangkan pentingnya perkembangan sosial dan praktek politik dalam pembentukan otoritas konstitusi yang adil. Karena sebuah teks akan mengindikasikan satu makna dalam pandangan Asad, dapat dikatakan bahwa makna relatifnya menjadi terbatas dan absolut. Interpretasi manusia terhadap "dan bermusyawarah lah bersama mereka" itu bersifat mengikat baik kepada penguasa maupun rakyatnya. Penyimpangan dari interpretasi tersebut akan berakibat pada tidak sahnya suatu pemerintahan. Hal itu pun akan berakibat pada munculnya pertentangan antara penguasa dan rakyatnya.

Syura lah yang membuat sebuah pemerintahan menjadi sah secara hukum. Dan legitimasi itu akan tetap berjalan pada aplikasi syari'ah di negara Islam. Asad menyatakan bahwa penggantian suatu kekuasaan negara atau Amir dianggap sah apabila Amir atau pihak eksekutif melakukan penentangan syari'ah secara disengaja. Dengan demikian, aplikasi syari'ah itu menjadi standard akuntabilitas publik.

Begitulah, syari'ah memang ilham politik Islam yang a-historis. Nampaknya akan selalu ada orang dari kalangan Islam yang seperti Asad yang merindukan akan diberlakukannya Hukum Islam di mana dia hidup. Adanya orang seperti ini adalah konsekuensi logis dari adanya ayat-ayat yang menyatakan bahwa "Barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang melakukan perbuatan zalim." (QS. 5:47). Ayat ini begitu jelas, sehingga pemikir modernis rasional seperti Asad pun tidak bisa lari dari kenyataan literalnya. Bagi umat Islam yang membaca ayat-ayat seperti ini akan segera berkesimpulan pada: perlunya advokasi hukum Islam di dunia ini, sekurang-kurangnya di wilayah mereka tinggal.

Namun, pada akhirnya pula pihak-pihak yang hendak menerapkan syari'ah ini selalu mendapatkan kendala-kendala teknis. Kendala-kendala ini timbul, manakala kekayaan historis umat Islam yang sudah redup dihadapkan pada kekayaan historis Barat yang sedang gilang gemilang. Dengan ditutupnya pintu ijtihad di kalangan umat Islam, sejak abad pertengahan, mereka sudah susah lagi mengejar ketertinggalan dari Barat. Sehingga, peradaban berikut segala urusan teknisnya berada di bawah pengaruh Barat. Yang ada, pada Asad, pada Bucaille, dan pada intelektual Muslim lainnya adalah adaptasi dengan bersikap kritis terhadap Barat.

Upaya adaptif-kritis ini merupakan jalan keluar yang nampaknya paling memuaskan: menjadi modern sekaligus memperjuangkan tegaknya Islam. Inilah yang diperjuangkan kaum modernis. Walaupun begitu, dua langkah sekaligus adalah suatu upaya yang cukup merepotkan. Tidak heran, jika selalu ada umat Islam yang lebih memilih Westernisasi secara penuh. Jelas realisme ini terlalu berlebihan, sehingga identitas Islam sudah sangat marginal di kalangan mereka ini. Jalan yang lain adalah dengan dipeliharanya institusi ulama dengan produk-produk mereka yang sudah sangat marginal di dunia modern, juga jelas tidak dapat dipertahankan, jika memang Islam hendak ditegakkan sebagai way of life dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Yang terakhir, jalan -yang disebut Barat sebagai-fundamentalis, sebuah jalan yang ditempuh untuk kembali pada Islam masa awal, adalah jalan yang hanya akan berujung pada kesimpulan bahwa umat Islam itu harus berkuasa dan harus melawan semua musuh-musuhnya. Sebuah jalan yang ekstrem, yang selalu relevan bagi idealisme dan selalu ambivalen dalam aplikasi.

Keempat golongan itu selalu ada tampaknya di setiap negeri-negeri Muslim. Hanya mungkin persentase penganut dan kadar aktivitasnya saja yang berbeda-beda. Pergolakan pemikiran itu barangkali akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Tokoh-tokoh dari keempat golongan itu akan terus timbul mewarnai sejarah umat Islam. Dan realitas politik Islam akan terus dibayangi oleh nihilisme, romantisme, tradisionalisme dan pembaharuan. Sebuah pergolakan yang tak kunjung selesai.

Namun, walaupun perhelatan pendapat di kalangan ummat Islam itu ternyata cukup rumit dan berkelok-kelok, perlulah terus diingat bahwa ummat Islam adalah pihak yang mengusung bendera al-wahyu, yang harus tanpa henti melakukan perlawanan, sekecil apapun, terhadap mereka yang hanya mengagung-agungkan kepentingan manusia yang sesaat (al-hawa), sebesar apapun mereka adanya. Inilah risalah da'wah, risalah para Nabi dan salaf al-shalih, risalah yang menegakkan kalimah Allah, yang tak pernah berubah (QS. 10:64). Wallahu a'lam bi al shawwab.

Fikrah
DR.H. Irfan Syafrudin, MA
Sistem ekonomi Islam telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, meningkatkan keadilan dan persamaan dalam masyarakat, bangsa dan negara, ataupun antara masyarakat Islam dan masyarakat dunia. Di sadari sejak...more...
Dewan Tafkir
DR. Badri Khairuman
Yusuf al-Qaradhawi, yang dikenal di tanah air dengan nama Yusuf Qaradawi, adalah ulama kontemporer, yang sangat ditunggu-tunggu fatwanya oleh masyarakat muslim internasional. Ulama kelahiran Mesir tahun 1926 dan kini masih...more
Dunia Islam
BANGUI.Pembantaian kembali terjadi terhadap Muslim di Republik Afrika Tengah, dimana 13 Muslim dibunuh pada Senin (27/1) dalam penyerangan kelompok Muslim di negara tersebut. Sebelumnya Pejabat Hak Asasi Manusia PBB telah...more
INFO ASTRONOMI
POSISI BULAN
Office :
  • Jl. Perintis Kemerdekaan No. 2
  • Bandung, Jawabarat-Indonesia
  • Tel/Fax: 022-4220705/022-4220702
  • email: info[at]persatuanislam.or.id
atas