Detail pustaka
Pemikiran Keagmaan Persatuan Islam (I)
Minggu, 4-Mar-2012 | Penulis : BADRI KAHERUMAN
Pemikiran keagamaan yang diperlihatkan oleh Persis (Persis), dinilai oleh para ahli Islam di Indonesia, sebagai aliran keislaman yang bercorak puritan, yakni paham pemurnian Islam.  Dengan corak purifikasi ini selalu menginginkan segala sesuatu yang menyangkut Islam betul-betul murni, tak terkecuali dalam hal metode pemahaman ajaran Islam. Itu sebabnya, Persis melandaskan pemahaman keagamaannya secara ketat pada nash-nash al-Qur’an dan Hadits. Persis kurang menggunakan pendekatan rasional karena menganggap bahwa, kebenaran rasio bersifat nisbi, sedangkan kebenaran al-Qur’an bersifat mutlak. Sesuatu yang nisbi pasti tidak dapat menjangkau yang mutlak. Rasionalisasi yang digunakan paling jauh sebatas istidlâl, dalam rangka memahami teks-teks ajaran dari al-Qur’an dan Hadîts. Jadi tetap masih bercorak tekstual-normatif. 
Bagi Persis, setiap pengamalan ajaran Islam harus sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Rasulullah SAW. Sedangkan yang di luar itu disebut bid’ah. Karena itu, pengamalan ajaran Islam yang terbaik adalah Islam yang diamalkan oleh Rasulullah SAW. Dan masyarakat masa Nabi merupakan model terbaik bagi masyarakat Islam yang dicita-citakan di masa modern dewasa ini.
Itu sebabnya, pembahasan tentang bid’ah, khurafat dan tahayul, yakni pembahasan dalam kerangka ‘aqîdah dan syarî’ah mendapat porsi yang cukup luas, melebihi yang lainnya. Dan  dengan pendekatan tekstualitas-normatif ini Persis berusaha menjelaskan Islam secara hitam-putih, sehingga terlihat mana ajaran Islam dan mana yang bukan ajaran Islam, yang sekurang-kurangnya menurut pemikiran keagamaan Persis.

Konsepsi Wali dalam Kaitannya dengan Tawasul
Secara kebahasaan, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, Hadîts dan pembicaraan orang Arab, tawassul artinya mendekat (taqarub) kepada yang dituju dan mencapainya dengan keimanan yang kuat.
Dalam praktiknya, tawassul itu adalah berdoa dengan menggunakan perantara (wasilah), baik berupa orang maupun benda.
Yang dipersoalkan oleh Persis dalam bertawassul ini adalah penggunaan perantara misalnya Nabi, wali atau orang-orang ‘alim yang telah meninggal dunia. Karena yang telah meninggal itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa bahkan telah hilang ditelan bumi. Apalagi bertawasul dengan memakai benda, hal ini sama sekali tidak bisa dimengerti oleh akal sehat. Lain persoalannya jika orang yang dijadikan perantara itu masih hidup.
Itu sebabnya, dengan menggunakan gaya bahasa fiqh, A. Hassan (Soal-Jawab I, 1997: 328-331) menyatakan bahwa pada zaman shahabat memang pernah ada tawassul, tetapi dilakukan kepada orang yang masih hidup supaya mendoakan atau ia diajak berdoa bersama-sama, seperti pernah terjadi pada saat Umar Ibn Khaththab bertanya kepada Abbas paman Nabi, maka Abbas  pun  berdoa kepada Allah agar diturunkan hujan. Jika seseorang boleh minta kepada Allah dengan perantaraan orang lain karena berkatnya, maka berarti boleh bertawassul kepada ka’bah atau barang lain karena ia mempunyai berkat. Dengan demikian apa bedanya dengan cara berdoa orang-orang Jahiliyah? Yang meyakini keberkatan berhala-berhala.
Sebagai bandingan, pandangan A. Hassan di atas tampak berkesesuaian yang dikemukakan oleh Muhammad Nashîr al-Dîn al-Albani, (Al-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu, terj. Annur Rafiq Shaleh, 1993: 59), yang menyatakan bahwa dalam persoalan tawassul ini kebenaran berada pada pihak yang melarang tawassul dengan makhluk. Kami tidak melihat adanya dalil yang shahih yang dapat dijadikan dasar bagi orang-orang yang membolehkannya. Dan untuk itu kami minta agar mendatangkan nash yang shahih dan tegas dari al-Qur’an maupun al-Sunnah yang menyebutkan dibolehkannya tawassul dengan makhluk. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan satu pun dalil shahih yang menguatkan pendapat mereka, kecuali beberapa syubûhat dan rekaan-rekaan belaka. Semua doa yang disebutkan dalam al-Qur’an, tidak ada satu pun yang menyebutkan tentang tawassul dengan kemuliaan, kehormatan, hak atau kedudukan suatu makhluk.
Nashîr al-Dîn al-Albani kemudian mengeritik penggunaan dalil yang salah mengenai kebolehan tawassul ini. Seperti penggunaan riwayat ‘Umar Ibn al-Khaththâb ketika berdoa dalam shalat Istisqa yang bertawassul dengan kemuliaan ‘Abbas Ibn ‘Abd al-Muthalib. Dalam ucapan Umar: “Kami dahulu bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami ... Dan sekarang kami bertawassul kepadaMu dengan paman Nabi kami”, terdapat perkataan yang dibuang (makhdzûf) yang harus ditentukan. Untuk menentukan perkataan yang dibuang ini terdapat dua kemungkinan:
  1.  
    1. Kami dahulu bertawassul kepadaMu dengan (kehormatan) Nabi kami, dan sekarang kami bertawassul kepadaMu dengan (kehormatan) paman Nabi kami. Pendapat ini sesuai dengan pendapat yang membolehkan ber-tawassul.
    2. Kami dahulu bertawassul kepadaMu dengan (doa) Nabi kami, dan sekarang kami bertawassul kepadaMu dengan (doa) paman Nabi kami.

Pendapat ini dipegangi oleh Nashîr al-Dîn al-Albani, yang berpegang kepada cara-cara para shahabat bertawassul dengan melalui Nabi SAW. Misalnya, dalam riwayat disebutkan bahwa jika terjadi kemarau para shahabat berkumpul tanpa Nabi SAW kemudian mereka berdoa kepada Allah dengan mengucapkan: “Ya Allah, dengan NabiMu Muhammad, dan dengan kehormatannya di sisiMu serta kedudukannya di sisiMu, turunkanlah hujan kepada kami”. Atau mereka mendatangi Nabi SAW dan meminta kepada beliau agar sudi berdoa kepada Allah untuk mereka. Lalu atas permintaan itu Nabi SAW mengabulkan, kemudian beliau berdoa kepada Allah dan merendah dihadapanNya sehingga diturunkanlah hujan untuk mereka.
Sedangkan mengenai yang pertama tidak pernah ada sama sekali dalam Sunnah Nabi dan tidak termasuk dalam perbuatan para shahabat tak seorang pun dapat mendatangkan dalil yang menjelaskan bahwa cara bertawassul para shahabat adalah dengan menyebutkan di dalam doa mereka nama Nabi SAW, meminta kepada Allah dengan hak dan kemuliannya di sisiNya. Bahkan yang banyak ditemukan dalam kitab-kitab Hadits adalah cara yang kedua. Disebutkan bahwa cara para shahabat bertawassul dengan Nabi SAW adalah dengan mendatanginya dan meminta kepada beliau secara langsung agar berdoa untuk mereka kepada Allah. Mereka bertawassul kepada Allah dengan Rasulullah SAW, bukan dengan lainnya. Ini sesuai dengan petunjuk al-Qur’an: “Sesungguhnya apabila mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentu mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Nisa: 64).
Pandangan dan keyakinan inilah yang diyakini benarnya oleh paham keagamaan Persis, sehingga dalam sekian banyak fatwanya ulama Persis menganggap musyrik hukumnya bagi siapa saja yang meminta kepada siapapun orangnya, setingkat Nabi atau wali yang telah meninggal dunia. Tawassul hanya bisa dibenarkan kepada yang diminta sebagai perantara itu dikala masih hidup.

Konsepsi Khurafat dan Tahayul
Khurafat ialah, “Satu ketentuan, caranya seperti cara upacara agama, ada ketentuan waktu dan tempatnya yang tidak diatur oleh akal, seperti membuat sesajen setiap malam Selasa atau Jum’at, tidak ada yang mengatakan hukumnya itu sunnat atau wajib, pelakunya tidak mengharapkan ganjaran atau menghindarkan adzab Tuhan, tetapi takut dari sesuatu yang ghaib, tidak berdasarkan akal atau dalil dari al-Qur’an dan Hadîts”.
Sedangkan yang dimaksud dengan tahayyul atau hayyal ialah, “Gambaran dalam pikiran yang dasarnya kira-kira atau sudah menjadi kebiasaan nenek moyang. Khurafat, nama satu orang yang mahir mendongengkan yang bukan-bukan terutama Lalakon Jin. Dan di kalangan orang Islam, di negeri kita, dimaksudkan sesuatu yang menyangkut yang ghaib, dasarnya kira-kira atau kebiasaan nenek moyang”. (KHE. Abdurrahman, Majalah Risalah,  Tahun XVIII No.184: 27).
Kritik terhadap prilaku khurafat dan takhayul yang berdimensi syirk itu, Persis menyatakan bahwa perbuatan atau keyakinan yang demikian bertentangan dengan tauhid, yang seharusnya hanya tertuju kepada Allah semata-mata. Dan dalam soal tauhid, Islam tidak mengenal kompromi dengan kepercayaan lain. Misalnya kepercayaan terhadap benda-benda keramat (jimat) yang konon dihuni oleh roh dan makhluk halus, jika tidak dipuja melalui sesajen, akan mendatangkan bahaya. Atau kepercayaan lainnya yang sejenis dan masih banyak diyakini oleh umat Islam di Indonesia. Karena kepercayaan-kepercayaan demikian, sesungguhnya merupakan kepercayaan Animis, yakni kepercayaan kuno bangsa Indonesia.
Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, 1987: 225),  memberikan ilustrasi bagaimana tindakan seorang Animis ketika berhadapan dengan suatu penyakit dan pengobatannya. Dalam pandangan seorang Animis, suatu penyakit tidaklah dilihat apa sebenarnya penyakit itu, sebab-sebabnya, dan kemungkinan cara penyembuhannya. Penyakit, baginya, langsung dihubungkan dengan roh, atau sukma. Penyakit adalah pengaruh roh jahat. Oleh karena itu, pengobatan satu-satunya untuk segala penyakit ialah yang bersifat ruhani, baik untuk mengusir roh jahat tersebut atau membujuknya supaya pergi, atau meminta pertolongan roh lainnya yang baik. Jadi, mengobati penyakit pun merupakan praktik keagamaan. Sungguh, tidak ada satu kegiatan manusia pun yang lepas dari lingkaran keagamaan. Tingkah laku manusia selalu dirangkaikan dengan ritual atau upacara keagamaan: umpamanya, memulai bercocok tanam, membuka saluran air, mengetam, dan seterusnya. Sisa praktik itu – sebagaimana disinggung di muka masih kita saksikan sampai sekarang ini. Bahkan pelakunya bukan masyarakat yang awam dan tinggal di pinggir-pinggir hutan, melainkan orang-orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan tinggal di kota-kota besar. Karena itu bentuk-bentuk ritualnya pun bergeser, misalnya ketika memulai pembangunan gedung-gedung, membuka usaha agar selalu sukses, maka diadakan selametan meminta izin kepada roh dan nenek moyang melalui bacaan-bacaan berdimensi Agama. Demikian pula tergambar, bagaimana rikuhnya seorang pejabat tinggi berhadapan dengan dukun, sang penakluk roh, meminta petunjuk agar jabatannya naik, minimal tidak dipindahkan kepada orang lain.
Kaitannya dengan kepercayaan Animis tersebut yang masih terus diyakini oleh sebagian umat Islam itu, selanjutnya Nurcholish Madjid menyatakan bahwa yang penting kita perhatikan dalam sikap Animis itu ialah bahwa, baginya, tidak ada benda sebagai benda murni. Karena itu, seorang Animis tidak mungkin mendekati benda sebagai benda. Di balik bentuk lahir benda itu, dia akan mencari arti spiritualnya: apakah benda itu mendatangkan kutukan atau membawa keberuntungan. Maka ia  tidak akan mengerti benda itu menurut hakikat materialnya, apalagi menaklukkan dan menggunakannya, sebagaimana kelaziman abad sekarang ini. Jadi sebenarnya, bagi seorang Animis, semua benda dan kegiatan keseharian ditentukan oleh resep-resep keagamaan. Tidak satu bagian pun yang dibiarkan dipecahkan oleh manusia sendiri dengan kreativitas berpikirnya.
Sekarang Islam datang dengan ajaran tauhidnya yang tidak kenal kompromi itu. Dengan tauhid, seorang Animis diajari untuk melihat benda-benda ini sebagaimana adanya, dia dapat mendekatinya sebagai benda obyektif, dapat memahaminya, dapat menggunakan dan menguasainya. Bagaimana dia mendekati benda itu, sangat banyak bergantung kepada kecerdasannya, tidak kepada ketekunannya melakukan upacara-upacara keagamaan. Maka dengan tauhid itu, terjadi proses sekularisasi besar-besaran pada diri seorang Animis. Semua benda yang semula dipuja, dan karenanya mengandung nilai akhirat, spiritual atau agama, sekarang ia campakkan ke bumi, dan dipandangnya sebagai tidak lebih daripada benda duniawi belaka. Benda-benda itu, dengan demikian, diduniawikan atau disekularisasikan. Sekarang ia mendekati benda tersebut dengan kapasitasnya sendiri selaku manusia, makhluk berpikir. Ia memikirkan benda tersebut: kejadiannya, hukum-hukumnya, dan cara menguasai atau menggunakannya. Dalam kegiatan berpikir itu, ia tidak bergantung kepada upacara-upacara keagamaan lagi: ia bebas. Dan pengetahuannya tentang benda itu pun adalah pengetahuan bebas, berdiri sendiri, di luar masalah-masalah spiritual.
Uraian yang dikemukakan oleh Prof. Nurholish Madjid di atas, tampak berkesesuaian dengan apa yang selama ini menjadi lahan da’wah Persis. Kritik-kritik Persis di sekitar kepercayaan yang dinilai khurafat dan tahayul tersebut, mendapat pembahasan yang sangat luas di kalangan mubaligh Persis, sejak ormas ini didirikan tahun 1923 di Bandung.

Konsepsi Syirk Kaitannya dengan Sumpah
Dalam memelihara dan memperkuat keimanan dan kepercayaan kepada Allah, salah satu perbuatan yang harus dijauhi oleh setiap muslim adalah syirk. A. Hassan (Kitab At-Tauhid, 1994:38-39) memberikan contoh perbuatan syirk sebanyak 23 macam, yang masing-masing menjadi indikasi ketidakmurnian iman seseorang. Ke-23 contoh syirk itu sebagai berikut:

  1.  
    1. Menyembah berhala, binatang, kayu, batu dan lain-lain.
    2. Minta pertolongan kepada manusia, binatang, pohon dan sebagainya dalam urusan ghaib.
    3. Takut kepada sesuatu, seseorang dalam urusan ghaib sebagaimana takutnya kepada Allah.
    4. Menyembelih karena selain Allah.
    5. Bersumpah dengan nama lain selain Allah.
    6. Menerima keputusan guru-guru, ulama-ulama dalam urusan agama tanpa disertai dalil al-Qur`an dan Hadits.
    7. Mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
    8. Menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul.
    9. Menggambarkan guru pada waktu berdzikir sembahyang atau berdoa.
    10. Menyeru di waktu kesusahan dengan kalimat, seperti: “Ya Rasûlullâh, Ya ‘Abd al-Qadîr”.
    11. Menganggap sesuatu itu sial, bertuah tanpa ada keterangan dari Allah dan rasul.
    12. Beribadah tanpa ada keterangan dari Allah.
    13. Minta hujan kepada binatang-binatang atau arwah-arwah.
    14. Menganggap kayu, kuburan mempunyai berkat.
    15. Tunduk, merendahkan diri kepada kuburan, batu, kayu, besi yang dipandang keramat.
    16. Beribadat semata-mata ingin dipuji.
    17. Menganggap ada yang berkuasa di dalam urusan ghaib selain Allah.
    18. Berkata semisal: “Saya akan datang jika dikehendaki Allah dan si Anu”.
    19. Menghina agama Allah dan Rasul-Nya yang benar.
    20. Mengeluarkan perkataan:“Semua agama baik, atau apa guna kita beragama.”
    21. Minta sesuatu dari Allah dengan memakai perantara, misalnya: “Hai Tuhanku, dengan berkat si anu, karuniakan kepadaku.”
    22. Minta kepada arwah seseorang supaya ia memintakan kepada Allah sesuatu untuk dirinya.
    23. Menganggap ada nabi lagi sesudah Muhammad yang membawa syari’at maupun tidak.

Pandangan di sekitar syirk di atas yang kemudian mendapat porsi bahasan yang tajam dan sekaligus merupakan kritik terhadap prilaku keagamaan masyarakat yang dilakukan oleh Persis, antara lain terkait dengan sumpah yang diucapkan oleh seorang muslim.
Umumnya umat Islam, mengucapkan sumpah itu dengan menyebutkan kata-kata: Demi Allah demi Rasûlullah saya bersumpah... Sementara Persis mengharamkan bersumpah dengan cara demikian. Bersumpah seperti itu sudah termasuk perbuatan syirk, karena menyekutukan Allah dengan Nabi. Menurut Persis mengucapkan kata-kata itu cukup dengan mengatakan: Demi Allah saya bersumpah....
Pandangan ini tampak berpegang pada petunjuk-petunjuk sumpah yang dijelaskan dalam Syarî’at Islam maupun pandangan para ulama, misalnya: “Sumpah ialah mentahqiqkan sesuatu perkara/keadaan atau menguatkannya dengan menyebut  nama Allah SWT atau salah satu sifat-Nya”. (Abi Bakr Ibn Muhammad Taqiy al-Din, Kifayat al-Ahyar, II: 152).
Sabda Nabi: “Dari Abdullah Ibn Umar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bertemu dengan Umar Ibn al-Khathab sedang berjalan dalam satu rombongan dan ia bersumpah dengan menyebut nama ayahnya, maka Nabi SAW bersabda: ”Ingatlah! Sesungguhnya Allah SWT melarang kamu bersumpah dengan menyebut nama ayah leluhur (kakek-nenek moyang) kamu. Barang siapa akan bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan menyebut nama Allah, atau diam sama sekali” (al-Bukhari, Shahih al-Bukhari bab Sumpah, 1326 H: 373).
Sementara dalam kitab fiqh dinyatakan: “Tidaklah sah sumpah itu melainkan dengan (menyebut lafazh) Allah SWT atau salah satu nama-nama-Nya atau salah satu sifat-sifat-Nya”. (Abi Bakr Ibn Muhammad Taqiy al-Din, Kifayat al-Ahyar, II: 152).
Bahkan praktik bersumpah dengan cara menyimpan kitab al-Qur-’an di atas kepala, maupun dipocong, hal ini merupakan praktik imitatif dari kepercayaan agama non-Islam. A. D. Marzededeq (w. Pebruari 2012) seorang ahli Ilmu Perbandingan Agama dan guru pesantren Persis Pajagalan Bandung, dalam bukunya: Parasit Aqidah dan Sisa-sisa Agama Kultur, menelusuri praktik bersumpah demikian itu berasal dari agama Yahudi. Ia mengutip suatu anotasi (syarh) dari Talmud yang merupakan kitab Syarh Tawrat yang diakui oleh orang-orang Yahudi, pada pasal 134 dinyatakan: “Maka Anbach di hadapan hakim, mengucapkan: “Demi Jehova” sambil menempatkan Taurat di atas kepalanya”.
Pak Marzededeq, juga lebih jauh menjelaskan dengan mengutip kitab Syarh Majna hlm. 26, yang menyatakan:
“Sesungguhnyakami Bani Israil apabila bersumpah biasa menyimpan Taurat di atas kepala kami. Tetapi ajaran itu bukan ajaran Musa dan Nabi-nabi yang lain”.
Karena itu pandangan Persis tentang sumpah ini terlihat sangat berbeda dengan umumnya pandangan dan keyakinan umat Islam, khususnya kalangan Islam tradisional, yakni bersumpah dengan cara mengangkat al-Qur’an di atas kepala mereka, yang sesungguhnya merupakan syari’at Yahudi.***

Fikrah
DR.H. Irfan Syafrudin, MA
Sistem ekonomi Islam telah dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia, meningkatkan keadilan dan persamaan dalam masyarakat, bangsa dan negara, ataupun antara masyarakat Islam dan masyarakat dunia. Di sadari sejak...more...
Dewan Tafkir
DR. Badri Khairuman
Yusuf al-Qaradhawi, yang dikenal di tanah air dengan nama Yusuf Qaradawi, adalah ulama kontemporer, yang sangat ditunggu-tunggu fatwanya oleh masyarakat muslim internasional. Ulama kelahiran Mesir tahun 1926 dan kini masih...more
Dunia Islam
BANGUI.Pembantaian kembali terjadi terhadap Muslim di Republik Afrika Tengah, dimana 13 Muslim dibunuh pada Senin (27/1) dalam penyerangan kelompok Muslim di negara tersebut. Sebelumnya Pejabat Hak Asasi Manusia PBB telah...more
INFO ASTRONOMI
POSISI BULAN
Office :
  • Jl. Perintis Kemerdekaan No. 2
  • Bandung, Jawabarat-Indonesia
  • Tel/Fax: 022-4220705/022-4220702
  • email: info[at]persatuanislam.or.id
atas